in

Masih Ada Kuda di Katuranggan

Sepanjang berabad-abad, kuda (Equus cabalus atau Equus ferus caballus) adalah makhluk yang menyimpan peranan penting dalam kebudayaan manusia. Sebagai hewan piaraan, kuda memiliki nilai fungsional dalam pengangkutan orang serta barang, baik di saat senggang, sebagai sarana berdagang, maupun sebagai kendaraan pada rana. Kuda-kuda terbaik dipilih sebagai tunggangan manusia, provisional yang lainnya dipergunakan untuk menarik kereta atau menyerobot barang. Di sejumlah tempat dalam kondisi tertentu, raja bahkan dipergunakan sebagai benda makanan dan obat.

Kapasitas penting kuda dalam kebudayaan manusia tak terbatas di dalam nilai fungsionalnya saja. Pada mata manusia, kuda merupakan makhluk yang dikaruniai kemuliaan, baik dari segi sikap maupun bentuknya. Daya hela dan keindahan makhluk berkaki empat ini telah mengilhami karya para seniman dari zaman ke zaman, terutama semenjak zaman purba. Estetika relatif seekor kuda menuntun konsekuensi pada nilai ekonomisnya, yang pada gilirannya hendak berubah menjadi simbol dari status sosial pemiliknya.

loading...

Tatkala zaman dan teknologi bidis, kuda tak lagi kemudian lalang di sepanjang sendi. Fungsinya sebagai alat beri transportasi telah tergantikan sambil alat transportasi yang lebih modern. Namun posisi pion sebagai penyangga status toleran pemiliknya tak banyak terbenam, bahkan semakin meningkat, sebab orang kebanyakan semakin terjauhkan dari dengusan nafas pion. Jikalah mereka masih ngerasa dekat, bolehlah dianggap sebab eksotika dan keindahannya tercatat dengan sangat baik. Meskipun hanya ada di tanah rendah imajinasi, keberadaannya begitu terasa dekat dan akrab.

Tokoh imajiner kuda begitu terpadu dalam kultur kehidupan wong masa kini. Kuda tersedia di papan catur, tersedia di logo mobil kaya, di simbol zodiak, dalam atas kanvas para mestro, hingga di bungkus tambahan penyedap masakan. Kuda wajar eksis di berbagai mitos dan legenda serta kompetensi pertunjukan, baik tradisional mau pun modern.

Popularitas mendunia Gangnam Style yang oleh The Washington Post ditulis serupa “gerakan tari konyol yang luar biasa”, ditirukan penuh orang secara bersama pada berbagai tempat (flashmob) beserta gerakan yang sangat seakan-akan dengan adegan menunggang raja. Fenomena inilah yang direspon oleh komunitas Sunda Kelambir Heritage (Jakarta) saat berkongsi dengan Forum Indonesia Mencerap dan Komunitas Tlatah Buyung (Magelang) dalam gerakan pikiran bertajuk “Jaranan Style” asal Desember 2012 lalu. Beserta workshop pembuatan jaran tengkaras, pentas tari jaranan, juga flashmob Jaranan Style, tersebut mengingatkan bahwa kita punya ragam gaya sejenis yang sama-sama terinspirasi oleh raja.

Fragmen menunggang kuda penuh ditampilkan dalam berbagai keindahan rakyat di penjuru Nusantara yang menggambarkan sosok serdadu gagah berani. Fragmen menyetir kuda ini, yang pada Jawa disebut dengan Jaranan, banyak ditampilkan dalam keindahan rakyat seperti jathilan, reog, campur, jalantur, dan lain-lain.

Mitologi Yunani mengenal makhluk imajinatif yang disebut centaur / hippocentaur, yakni ras khalayak setengah kuda (biasanya digambarkan berwujud manusia dari kepala negeri sampai pinggang, sementara pinggang ke bawah berwujud kuda). Makhluk ini sering dimunculkan kembali sebagai ras penting. Salah satu sosok centaurs yang terkenal adalah Chiron, teman dari Hercules, yang ketika tewas di tangan Zeus ditempatkan di lapisan udara sebagai konstalasi bintang Centaurus dan belakangan diadaptasi sebagai simbol zodiak Sagitarius.

Di budaya populer, C. S. Lewis dalam The Chronicles of Narnia menggambarkan centaurs sebagai sosok yang terkemuka, bijaksana dan diberkahi kesangkilan astronomi, ramalan, pengobatan juga keahlian berperang. Sosok centaurs juga muncul dalam sekitar film seperti Harry Potter, Clash of the Titans, Golden Voyage of Sinbad, Fantasia, serta serial TV Hercules: The Legenday Journey dan Xena: Warrior Princes.

Sosok kuda memang terdapat dimana-mana. Namun diluar tanah datar imitasi dan imajinasi, yang mana kuda-kuda itu sekarang? Yang mana kita bisa mendengar hentakan kaki dan dengusan nafasnya? Seumur hidupnya, sebagian anak-anak di kota besar barangkali belum pernah melihat tokoh kuda yang sesungguhnya. Terus-menerus jika mereka sempat menjumpai kebun binatang, nonton sirkus, mendatangi peternakan, nonton balapan kuda, atau mengunjungi metropolis lain yang masih menjaga keberadaan kuda sebagai instrumen bantu transportasi. Tak apalah, selama masih ada pion di sekitar kita, masih ada yang bisa kita dituturkan kepada mereka.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prof. Dr. Ing. BJ Habibie & Derajat Bangsa

Tips Menghemat Biaya Renovasi Rumah